17.7.10

Menuju Generasi Adaptif dan Progresif di Abad 21


Menjadi generasi muda memiliki tantangan yang berbeda di setiap abad. Apabila kita mundur ke 100 tahun lalu, kira-kira di awal abad 20, bangsa Indonesia sedang disibukkan dengan penjajahan bangsa Belanda dan Jepang. Para pemuda-pemudi yang ada saat itu turut berjuang keras untuk melawan para penjajah. Di tahun-tahun itu berdiri organisasi pemuda yang memikirkan kepentingan rakyat luas untuk bisa merdeka dari penjajahan yang telah ada. Bahkan Soetomo yang kala itu berumur 20 tahun bisa mendirikan organisasi pergerakan Boedi Oetomo.
Pemikiran generasi muda kala itu sungguh mulia. Berfikir jangka panjang demi kemaslahatan rakyat Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa generasi muda abad 20 kala itu dapat dinobatkan sebagai generasi nasionalis.
Hingga akhirnya kemerdekaan Indonesia dapat diperoleh di tahun 1945 pun berkat tangan-tangan para pejuang, yang dulunya merupakan generasi muda di awal abad 20. Kesadaran ingin lepas dari penjajahan tentu tak mungkin muncul secara tiba-tiba, tetapi terus dipupuk dari mulai menjadi seorang generasi muda. Diiringi pula dengan kesadaran bahwa dalam waktu 20-40 tahun mendatang, posisi pemimpin akan diisi oleh generasi muda saat itu.  
Mari kita kembali pada tahun 2010, awal abad 21, generasi muda Indonesia memiliki tantangan berbeda dari sebelumnya. Perkembangan teknologi yang telah maju pesat, era globalisasi, dan degradasi moral merupakan tantangan utama generasi muda abad 21.
Sesungguhnya, disadari atau tidak, tantangan-tantangan diatas juga merupakan penjajahan. Penjajahan terhadap pola pikir. Meskipun tidak menjajah secara fisik, tetapi tantangan tersebut menjajah pola pikir bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, sehingga dapat membuat bangsa ini kembali dalam keadaan terjajah. Tentunya jika tidak disikapi dengan baik.
Jika pada awal abad 20 generasi muda saat itu sadar untuk menentang penjajahan terhadap bangsa ini, maka tidak demikian yang terjadi dengan generasi muda saat ini. Mereka terlena dengan kenyataan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka. Mereka belum memikirkan bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia tidak cukup hanya sekedar merdeka. Namun, harus pula berprestasi dan menjadi negara maju. Terlebih dengan fakta bahwa Indonesia telah merdeka selama 65 tahun. Waktu yang seharusnya cukup untuk membuat Indonesia memiliki keadaan yang lebih baik dibanding yang ada saat ini.
Memang cukup terlambat bagi kita untuk menyadari bahwa kita sedang dalam keadaan terjajah. Namun, sebuah pepatah mengatakan bahwa lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Inilah saatnya bagi kita, generasi muda, untuk menjawab tantangan abad 21 dengan menjadi generasi yang adaptif dan progresif. Sehingga diharapkan nantinya kita akan membawa Indonesia menuju perubahan ke arah yang lebih baik.
Adaptif berarti dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Yang perlu kita lakukan adalah mudah beradaptasi dengan segala keadaan, segala perubahan, dan segala pemikiran. Bukan berarti kita tidak berpendirian sehingga mudah terombang-ambing, tetapi kita harus memiliki pemikiran terbuka. Ambil hal-hal yang positif dan buang yang negatif. Sebagai contoh, dalam menggunakan teknologi, yang saat ini sudah berkembang menjadi amat canggih. Gunakanlah teknologi secara bijak untuk kepentingan-kepentingan yang berguna bagi bangsa ini. Jangan terlena menggunakan teknologi untuk sesuatu yang tidak berguna.
Progresif berarti memiliki arah menuju kemajuan. Setidaknya keinginan untuk maju menjadi bangsa yang lebih peduli terhadap negara ini sudah harus tertanam di jiwa setiap muda-mudi Indonesia. Akan lebih baik apabila keinginan tersebut diwujudkan dalam suatu bentuk nyat dengan berprestasi di bidang apapun.
Andai saja dua hal ini, adaptif dan progresif, dapat dimiliki oleh generasi muda saat ini, bukan tidak mungkin di pertengahan abad 21 nanti, nama Indonesia akan harum di dunia internasional. Semoga saat itu tidak hanya menjadi sebuah angan-angan belaka.    

5.6.10

Am I?

Tonight, Alvian send me this link.
So, I click it.
Then, I try to answer it.
And, whoa, this is the result. Check it out.
---
Your view on yourself:
You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties.

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:
You like serious, smart and determined people. You don't judge a book by its cover, so good-looking people aren't necessarily your style. This makes you an attractive person in many people's eyes.

Your readiness to commit to a relationship:
You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.

The seriousness of your love:
You are very serious about relationships and aren't interested in wasting time with people you don't really like. If you meet the right person, you will fall deeply and beautifully in love.

Your views on education:
Education is less important than the real world out there, away from the classroom. Deep inside you want to start working, earning money and living on your own.

The right job for you:
You're a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you'll be set for life.

How do you view success:
Success in your career is not the most important thing in life. You are content with what you have and think that being with someone you love is more than spending all of your precious time just working.

What are you most afraid of:
You are concerned about your image and the way others see you. This means that you try very hard to be accepted by other people. It's time for you to believe in who you are, not what you wear.

Who is your true self:
You are mature, reasonable, honest and give good advice. People ask for your comments on all sorts of different issues. Sometimes you might find yourself in a dilemma when trapped with a problem, which your heart rather than your head needs to solve.

3.6.10

Setahun Setelah Penantian Itu Terjawab

Kuliah di semester IV sudah berakhir tanggal 7 Mei lalu. Artinya, sudah genap satu tahun akademik saya lewati dengan mengikuti perkuliahan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota di Kampus Gajah ini. Ilmu yang saya dapat mengenai perencanaan baru sepertiga. Pun langkah saya baru sepertiga untuk lulus dari program studi yang akrab disebut Planologi ini. Masa-masa TPB tidak saya hitung karena pelajaran mengenai Planologi baru dimulai di semester III.
Kuliah selama dua semester disini sedikit-banyak mulai memberi saya gambaran mengenai “benda” yang bernama Perencanaan Wilayah dan Kota ini. Sebuah analogi pernah saya dengar mengenai perkuliahan di Planologi ini, yaitu seperti empat orang buta yang diperintahkan mendefinisikan seekor gajah dengan meraba. Si buta pertama mungkin berkata bahwa gajah seperti daun karena yang diraba adalah telinga yang lebar. Si buta kedua dapat berkata gajah seperti tiang karena yang diraba adalah kaki yang kokoh. Buta yang lain mengatakan bahwa gajah seperti benda tertentu sesuai apa yang dirabanya. Empat orang buta melambangkan waktu empat tahun perkuliahan dan sang gajah melambangkan Planologi.
Nah, analogi inilah yang dibuat untuk menggambarkan bahwa kita akan mengetahui Planologi secara utuh apabila sudah “meraba” secara keseluruhan. Berarti saat ini saya sudah “meraba” di dua tempat yang berbeda. Ingin rasanya berkomentar mengenai Planologi ini. Tentunya tanpa komentar mengenai masa-masa TPB.
Secara keseluruhan di semester III, mata kuliah yang saya ambil berkutat mengenai teori. Oleh karena itu, banyak sekali yang harus dihafal. Hah. Supaya lebih jelas, saya akan komentari satu per satu.
1. Analisis Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
Disini diajarkan mengenai pentingnya menjaga lingkungan, sedikit mengenai mitigasi bencana, ada juga sedikit mengenai proses terjadinya bencana alam seperti gempa dan tsunami, mengenai batuan, air tanah, dsb. Hal ini dipelajari agar perencanaan yang dilakukan tidak mengganggu kestabilan lingkungan.
2. Analisis Sosial dan Kependudukan
Mata kuliah ini berkutat pada demografi seperti kelahiran, kematian, dan migrasi. Selain itu, ada pula mengenai teori transisi demografi, kepadatan penduduk, dan proyeksi penduduk. Perilaku sosial pun dipelajari disini. Hal ini diberikan karena penduduk merupakan objek yang nantinya akan merasakan manfaat perencanaan.
3. Pengantar Ekonomika
Seperti judulnya, pada mata kuliah ini akan diterangkan mengenai penawaran dan permintaan beserta kurva-kurvanya, barang publik dan privat, inflasi, dll. Mengapa hal ini penting? Karena peningkatan atau kemajuan perekonomian suatu wilayah atau kota merupakan salah satu tujuan perencanaan.
4. Pengantar Data Spasial
Nah, mata kuliah ini menerangkan pentingnya perencana memahami peta. Skala, legenda, warna yang ada pada peta harus bisa dipahami dengan baik. Satu hal yang ditekankan ketika mengikuti kuliah ini adalah bahwa skala harus dipergunakan dengan tepat. Untuk setiap rencana (RTRW, RUTR, RTRK, dll.), gunakanlah skala yang tepat. Oia, mata kuliah ini juga mengajarkan penggunaan ArcGIS secara sederhana.
5. Metode Analisis Perencanaan I
Ini mata kuliah hitung-hitungan. Lebih tepatnya statistika. Kita akan akrab dengan istilah sampel, populasi, mean, modus, variansi, dll. Ada praktikum juga, yaitu mengajarkan penggunaan program SPSS (Statistical Packets for Social Sciences, kalo gak salah, red.)
6. Infrastruktur Wilayah dan Kota
Mata kuliah ini mengajarkan kita mengenai rupa-rupa infrastruktur yang ada. Khususnya yang berhubungan dengan wilayah dan kota. Infrastruktur persampahan, transportasi, dll.
7. Tata Guna Lahan
Kalau yang satu ini, saya anggap sebagai mata kuliah yang wajib dipahami di prodi ini. Kata-kata guna lahan akan sering sekali terdengar di mata kuliah apapun. Oleh karena itu, dasarnya harus mantap. Ya, mata kuliah ini harus dikuasai dengan baik karena perencana pasti bermain dengan guna lahan.
Sekian dulu untuk semester III. Semester selanjutnya nanti aja, tunggu nilainya keluar semua. Semoga lebih baik. Amiin.

28.5.10

Terorisme Nuklir

Saat ini, nuklir menjadi salah satu “barang” penting yang ada di dunia. Keberadannya diperebutkan dan menimbulkan persaingan antar negara-negara di dunia ini. Nuklir merupakan energi alternatif pengganti bahan bakar minyak, yang ketersediannya mulai menipis. Tak hanya berfungsi sebagai pembangkit listirik, yang memiliki kekuatan dahsyat, nuklir juga digunakan sebagai senjata. Bahkan menjadi senjata pemusnah massal. Senjata yang dengan mudah akan melenyapkan makhluk hidup dalam jangkauan luas dengan hanya beberapa gram saja.

Kegunaan nuklir yang terakhir disebut ternyata disalahgunakan untuk kepentingan pribadi oleh pihak-pihak tertentu yang tidak ber-peri kemanusiaan. Orang-orang ini bisa saja merupakan negara pemilik reaktor nuklir tersebut atau merupakan pihak luar. Orang-orang inilah yang saya sebut sebagai teroris.

Solusi yang dapat saya tawarkan untuk kasus ini adalah sebaiknya negara-negara di dunia ini membuat suatu kesepakatan jelas mengenai nuklir ini. Menurut saya, persoalan pokok mengenai nuklir adalah kesenjangan antara negara-negara yang boleh menggunakan energi nuklir dengan negara-negara yang dilarang menggunakan energi nuklir. Hal ini diperkuat dengan ketidakjelasan syarat yang harus dipenuhi apabila ingin menggunakan nuklir. Sebagai contoh, Amerika Serikat dan Perancis yang telah menggunakan energi nuklir sedangkan ketika Korea Utara, Iran, dan Pakistan hendak mengembangkan teknologi berbasis nuklir untuk kepentingan masyarakat luas ditentang habis-habisan oleh dunia, khususnya Amerika Serikat dengan alasan akan mengganggu stabilitas keamanan dunia. Kesenjangan itu memicu rasa iri dan kemudian berubah menjadi vandalisme dan akhirnya menebarkan teror terhadap pengguna teknologi nuklir.

Selain solusi diatas, hal yang harus dipupuk di dalam hati seluruh negara-negara di dunia ini adalah kepercayaan terhadapa satu sama lain. Mengapa Amerika Serikat menentang Korea Utara atau Iran mengembangkan teknologi nuklir mereka? Karena Amerika Serikat tidak percaya Korea Utara dan Iran akan menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan yang baik, melainkan untuk mengganggu stabilitas keamanan dunia, atau bahkan untuk menyerang mereka. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap saling percaya antar negara-negara tersebut. Kepercayaan ini dapat dibuat dengan kesepakatan yang dibuat dengan hitam-diatas-putih oleh negara-negara tersebut dengan konsekuensi yang tertulis jelas apabila terjadi pelanggaran. Peran para pemimpin bangsa dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa amat dibutuhkan dalam terwujudnya kesepakatan ini.

18.5.10

Goa

Akhir-akhir ini saya lebih senang untuk tetap diam di kamar daripada berada di luar. Mungkin karena saya ingin membayar waktu saya yang biasanya lebih banyak di luar. Kamar ini disebut goa oleh teman-teman saya. Selain letaknya yang memang dibawah, disini juga agak sulit untuk menerima sinyal. Tak hanya itu, udara di kamar ini cenderung dingin meskipun diluar matahari bersinar terik. Bahkan, saya bisa tetap tahan berselimut disini. Sehingga kalau saya sudah berada di kamar pasti tertidur. Jika sudah tertidur, maka putus hubungan dengan dunia luar. Tidur dengan YM tetap tersambung dan handphone yang sering menampilkan sinyal kosong.  Mungkin ini yang menyebabkan teman-teman kesal karena jadi sulit dihubungi. Tak terasa tanggal 5 Juli nanti, akan genap setahun saya tinggal di goa ini.
Tekad saya untuk pindah dari kost yang lama memang sudah bulat. Suasana disana menyenangkan sebetulnya. 10 dari 14 penghuni kost itu adalah mahasiswa tingkat pertama, termasuk saya. Bahkan, 5 diantaranya  merupakan teman saya ketika SMA. Suasana disana cukup ramai, apalagi setiap makan pagi dan malam kami lakukan bersama-sama. Benar-benar seperti keluarga. Hidup saya sudah cukup ramai tanpa keberadaan internet dan televisi. Menyenangkan, ramai, dan kekeluargaan. Itulah kata-kata yang bisa menggambarkan kost saya yang lama. Ups,  saya lupa, masih ada satu lagi. Jauh.
Ya, kost saya dulu memang jauh. Naik angkot Cisitu-Tegallega sampai angkot itu mencapai tujuan akhirnya, lalu berjalanlah sepanjang jalan setapak kira-kira 10 menit. Jalan menanjak dan menurun? Tenang, justru itu sebagai penanda bahwa anda berada di jalur yang tepat.
Tetapi, rasa lelah itu akan terbayar ketika saya melihat warung mie bakso di dekat kost saya. Yang paling enak adalah jus alpukatnya. Dengan harga segitu, jus alpukat warung ini belum ada yang ngalahin enaknya. Slurp. Sayang setiap hari Jum’at warung ini tutup. Kalau tidak, mungkin sudah 7 hari dalam seminggu saya menyambangi warung ini.
Saya hanya bertahan untuk tinggal selama setahun disana. Memasuki tingkat kedua, saya memutuskan untuk pindah ke tempat  ini. Saat ini saya sedang bingung apakah akan pindah atau tetap tinggal disini. Banyak kemudahan yang saya rasakan ketika tinggal disini. Salah satunya karena akses 24 jam yang ditawarkan. 24 jam bebas keluar-masuk kost, 24 jam angkot, 24 jam tempat nge-print dan jilid. Nanti deh, saya pikirkan lagi.